Doa dan Debu

doa yang meluncur
melalui lidah kita
malam ini
telah menjelma
menjadi semburat sinar
melesat melampaui mega
untuk menyampaikan
hidupmu
yang terlewat dari hidupku

kita telah lama
menjalani hari dan hati
hingga doa itupun
tak sanggup menyatukan
setiap genggam debu
yang telah terbang
ditiup angin takdir
maka doaku itu
telah menjadi cahaya
bagi debu dari jasadmu
terhempas dari jiwaku

selamanya
selamat tinggal

Alangkah Tololnya Kita

pasukan-pasukan disiapkan
dalam ceruk gelap jantung kita
dibasuh dengan api dan air
dari tiap doa
yang meluncur dari lidah
setiap sujud, duduk, dan berdiri

setiap saat

pada rusuk yang lengkung
kita tambatkan sementara
segenap onta dan kuda sangurdi
sembari mengepulkan asap
untuk memanggang dosa
serta belang pada tubuh
sekian lama kita pupuk
sebelum keberangkatan

sebelum terlambat

kita bergegas
tapi tidak tergesa
sebab pasukan yang tersusun
menjalani berhari hari sunyi
tanpa kekasih hati
cuma dingin, nyeri, dan luka
di ulu hati
menuju medan perang
tanpa kepastian kepulangan

tanpa jaminan

maka ketika padang itu terlapang
musuhpun menjelma ribuan sosok
hingga ringik kuda serta lenguh onta
menggetarkan ranting-ranting patah
sekejap sebelum debu-debu berhamburan
menjadi awan di kaki langit

menjadi mawar gurun

betapa kita akan kecewa
menemui wajah musuh yang juga kecewa
sebab musuh itu
bukan siapa-siapa

melainkan kita sendiri
dari masa silam
penuh belang-belang dosa
dan kejahiliahan

alangkah tololnya kita


2009

Beberapa Pesan Tentang Pemikiran dan Perasaan

belakangan ini banyak lagu yang cukup terngiang di telinga saya walaupun jujur selama ini tidak terlalu menyukai lagu. lagu dari hijau daun tentang 'suara dengarkanlah aku' yang mengingatkan saya pada masa kejahiliahan, 'hidupmu hampa'-nya siapa ya lupa he he.. yang jelas cukup menjadi pikiran.

keduanya seolah mengingatkan kita pada satu frase dimana kesendirian menjadi momok yang mengerikan. walaupun kalau boleh bilang, saya paling menyukai kesendirian dibandingkan yang lain. dibandingkan dengan tertawa bersama teman-teman KKN (Moef, Tguh, Irm, Ri2s, Feni, dkkl), komparasi (braminto, amir, magadhon, profesor, donaldduck), teman laboratorium (ilhm, mb dini, weks, satub, ali, lee, arf), teman-teman SAT, Tim Syiar, ADz, lingkaran Hadist, ataupun yang lain....

mengapa mereka seolah tak mampu menikmati sepi? apa karena ingin melarikan diri dari setiap ingatan masa silam yang menghantui? atau memang kenapa?

betapapun begitu, kita musti terpaksa terjun kepda keramaian untuk menyebarkan kata-kata langit.

Kisah Para Jemari

Jemari kita senantiasa
menjelma juluran lidah
untuk mengucapkan kata
berupa huruf dan gambar
pada kertas suci ini
dimana setiap huruf
menjelma pisau terasah
yang mengiris lidah kita
sekerat demi sekerat
hingga kita menjadi bisu

bisuku disini
bisumu disana
saling melemparkan pertanda
tak akan mampu kutafsir
hanya dengan mata ini
sebab betapa lemahnya pandang
ketika kabut turun
mengental di kelopak
dan mereka
jemari kita muncul dari saku
untuk menuangkan tafsir hati
pada kertas lusuh
sesobek koran

namun, senantiasa bisa terasa
karena memang jemari kita
lebih lincah mengungkap kata
dari pada lidah

Puisi dan Motivasi

betapapun kita telah mengunjungi dunia ini berulang kali. ketika kita bangun dari tidur, mata kita yang menyala seiring dengan matahari subuh. kita tak akan pernah mengetahui kemana kita akan berlabuh.

Puisi dengan serangkaian sebutan lainnya: pantun, sajak, sanjak, syair, soneta, dkk merupakan salah satu bagian dari peningkatan kejiwaan kita. dengan syair yang menggugah serupa tulisan Iqbal tentang cinta, tulisan RUmi tentang tazkiyah, tulisan buya Hamka tentang islam dan kenegaraan, tulisan Amir Hamzah tentang tuntunan hidup sampai tulisan-tulisan liar yang menyatakan pandangan hidupnya: kita dapat mengambil semangat / motivasi didalamnya. sebagaimana seorang Umar Bin Khattab mengatakan "ajarilah anakmu dengan sastra, kalau dia penakut niscaya akan menjadi pemberani"

selain itu muncul juga dari alam jiwa kita ketika mulai menulis puisi serupa kegundahan, tolok ukur, pikiran, serta nilai-nilai diri yang terus kita jaga. ini akan benar-benar membebaskan.

meskipun demikian, syair, puisi, sajak, sanjak, pantun,dkk tidak akan memberikan apapun, bahkan hanya akan _maaf_'nyampah'kalau tidak dilandasi tujuan yang jelas. hanya mengumbar perasaan tanpa solusi, kekeruhan, dan serangkaian gambaran lain. ada juga yang mengatakan sastra itu wahana kebebasan termasuk pornografi, maka bagi mereka saya hanya mendoakan semoga dapat di luruskan. atau sekalian dipatahkan...

maaf kalau menyinggung...he he he

ambisi dan akselerasi

kata ambisi senantiasa dihubungkan dengan permasalahan psikologis. ia lebih menjurus pada ketidak tenangan jiwa pada sesuatu. ketidaktenangan tersebut terus menerus menggerus pikiran sehingga melelahkan dan pada akhirnya akan mengakibatkan banyak gangguan kejiwaan. entah ia akan menjadi pemarah, sensitif, atau bahkan mengalami penyakit psikosomatis.

saya tidak mengetahui banyak hal mengenai ini. betapapun seorang Niefha, Yulifia, Afrida, Abi Kresna, Abi Khobsin, Nafis Mudrika lebih mengetahui penjelasan lebih detailnya. namun, ada juga yang beranggapan bahwa ambisi itu sangat diperlukan dalam akselerasi keimanan dan keislaman seseorang.

pendapat tersebut meluncur dari jemari tangan seorang Abdullah yang biasa di panggil dengang Imam Syafii. Beliau memaparkan bahwa sesungguhnya untuk mempercepat keislaman seseorang ia membutuhkan enam hal, diantaranya adalah:
1. cita-cita tinggi
2. ambisi
3. modal infestasi harta
4. keakraban dengan ulama

hal yang sangat menarik adalah kata ambisi disebutkan dalam enam hal yang dibutuhkan untuk akselerasi keilmuan tersebut. seorang Fatan Fantastik pernah menyampaikan bahwa dalam mempercepat/ akselerasi keislaman seseorang ia membutuhkan ambisi yang kuat seperti seorang Abu Hurairah. ia mencukupkan diri dengan ambisi untuk melayani rasulullah dan menghapalkan sebanyak mungkin hadist. hasilnya ia menjadi penghapal hadist paling banyak walaupun hanya empat tahun bersama nabi.

ada banyak hal yang dapat dipaparkan pada kesempatan ini, namun saya akan mengakhiri ombrolan ini dengan satu pertanyaan:

apa cita-cita kita dan apa ambisi kita untuk mewujudkannya?


*pada kesempatan ini saya sangat berterimakasih kepada seseorang yang dengan sesuatu yang ia tinggalkan berupa ambisi yang besar. seperti Nobunaga, Hideyoshi, atau Ieyasu.(Novel Taiko bagus banget untuk refferensi)

Kisah Sebuah Kapal

Tali pancang telah diputus
Jangkar diangkat
Sauh layar terkembang
Nakoda berteriak girang

Sambut lautan kehidupan
Pecahkan karang
Belah puncak gelombang

Teriakanku disini
Teriakanmu disana
Menyatu di tengah-tengah
Hingga lebam mata kita
Mengayuh lautan airmata
Pada perpisahan sementara

Sambut lautan kehidupan
Terjang badai menghantam
Kita bakal sampai daratan
Tempat mimpi-harapan
Menjadi kenyataan

Kataku dan katamu
Kita berkata-kata pada muka
Yang bias oleh air mata
Sebab tahu, kemudian berjumpa
Pada tanah harapan sana
Di ladang perburuan abadi

Firdausnya mimpi
Firdausnya harapan
Saudara-saudariku
Sebentar berpisah di sini kita
Mari berjuang menghalau gelombang
Menuju tanah harapan

2009