Oemar Timbul : Jika berdosa bertaubatlah dengan berhenti

:Rui

Pertaubatan dalam benakku
Bukanlah menyalahkan dosa
Sebab betapapun kita
Ia telah berlalu. Dan tak dapat digali ulang untuk dihapus

Karenanya hanya ada satu jalan
Dimana kita berada di bumi
Untuk kemudian menyalurkan hasrat
Pondasi dosa itu kepada kebaikan Illahiyah.

Jika kau berdosa karena mencuri
Bertaubatlah dengan berhenti dan mulailah berbagi

Jika kau berdosa karena mencaci
Bertaubatlah dengan berhenti dan mulailah memuji

Jika kau berdosa karena berjudi
Bertaubatlah dengan berhenti dan mulailah merinci

Jika kau berdosa karena memandang
Bertaubatlah dengan memaling dan mulailah menyempurna

Jika kau berdosa karena memukul
Bertaubatlah dengan berhenti dan mulailah mengelus

Jika kau berdosa karena membenci
Bertaubatlah dengan berhenti dan mulailah mencintai

Jika kau berdosa karena sesuatu
Bertaubatlah dengan berhenti dan mulailah sesuatu baru

Sebab begitulah jalan yang Allah tetapkan
Akan hidup dan matimu. Akan pertaubatan yang kau ingini.

2009

Jump To Conclusion

"hal terburuk dari sifat manusia
adalah segera melompat ke bab kesimpulan"
My Profesor

nah mungkin hal ini juga yang menghambat prosesi kuliah saya. bahkan hal ini selalu mengganggu pikiran saya. banyak orang yang merasa tahu tentang saya. lebih buruk lagi, saya merasa tahu mereka. Ha ha ha ... jadi ingin menertawakan diri sendiri.

tapi memang begitulah sifat kita sebagai manusia. terlalu cepat menyimpulkan. termasuk orang-orang terdekat saya. bahkan saya. : )

peace and love

Oemar Timbul

Pelayat dan Album Kenangan


Rembulan pucat bergaun hitam
Datang sebagai pelayat
Hadiri mataku
Menyusup diantara pupil mata
Untuk menyapa segala
Kenangan yang terselip diantara lidah dan rambutku

Segera rembulan itu hadir
Segenap rasa pada lidah usia
Maupun aroma pada hidung dan hidupku
Berkabung
dengan menyajikan hidangan (atau mayat) ingatan
Potret hitam putih
Pada sebuah album
Untuk kau buka lembar demi lembarnya

Bila hadir
Hadirlah
Cermati satu persatu potret itu
Ambil satu, bingkai dengan air matamu
Aroma doa kepasrahan
Yang terkapar tak terjawab Tuhan

O, para pelayat kenangan
Menjelma rembulan
Menjelma gumintang
Pada mataku yang malam
Rasuki hidupku yang lelap

2009

Dalam Kesendirian

to: Sember Lewer

beribu luka kugenggam sendiri berhari bulan bahkan tahun legam
memanggut setiap seruling dalam sunyi. ditiup angin
dari paruku terus menghirup hempas. ah, kuhempaskan segala
rasa tolol dan perhatian kalian. biarkan aku sendiri

dalam sendiri
rembulan pucat
malam kelam
hati mengiris mata
dan mata menyerah
dalam tiap tawa
bersama si bodoh Timbul

dan kata kata tolol akan meluncur dari gigir lidah waktuku
menghibur dalam tiap kata kata menguap lindap. dan hilang.
biarkan dalam kesendirian ini kucari cerminku sendiri.

2009

Bangunan Logika Dan Perasaan Massa Dalam Percaturan Langit

Logika dan perasaan adalah dua bagian dalam tubuh manusia yang terlampau berharga untuk dibuang. ia merupakan susunan tak terlewat dari hidup kita sebagai manusia. logika dan perasaan tersebut masing masing masih bisa di bagi menjadi dua bagian, dimana satu bagian adalah logika dan perasaan umum serta yang kedua adalah yang lebih bersifat ruhiyah atau logika dan perasaan 'langiti'(saya lebih suka menyebutnya demikian)

logika dan perasaan secara umum dapat di lihat dari sinetron-sinetron (yang makin hari makin mengerikan sekaligus menggelikan), film, bahkan berita politik negara kita. logika semacam ini mengingatkan saya pada sebuah cerita:

suatu hari seorang pelaut muda berlayar dengan pelaut tua. sang pelaut muda menantang pelaut tua ' hei pak tua, mari kita beradu cepat menyeberang selat ini'. sang pelaut tua hanya tersenyum, maka dimulailah perlombaan menyeberang selat tadi.sang pelaut muda langsung membelah ombak dan berlayar, sedangkan pelaut tua mengambil bekal dan malah makan-makan di pantai.

'usia tua memang membuat orang menjadi lambat' pikir sang pelaut muda. ia terus berlayar, sampai selang berapa lama badai menghantam, sang pelaut muda mengarahkan layar, mendayung cadik, serta serangkaian tindakan lain yang mengesankan. dalam waktu dua jam, sang pelaut muda telah kehabisan tenaga dan layar perahunya pun sudah patah. ia memutuskan untuk beristirahat dan memperbaiki layar.

tiga hari kemudian, dengan sisa-sisa tenaga dan bekal yang ada pelaut muda sampai juga di sebuah pulau. ia berhasil melintasi selat. 'ah kalau aku saja perlu tiga hari untuk menyeberang, pasti pak tua itu satu bulan. aku bisa beristirahat dulu di warung itu' kebetulan ada warung di tepi pantai. pelaut muda itu berjalan terhuyung, perutnya kelaparan dan tubuhnya benar-benar lelah.

sesampainya di warung ia begitu terkejut melihat pak tua sedang menyeruput kopi panas. tidak terlihat jejak-jejak kelelahan di mata dan tubuh pak tua itu. pelaut muda yang kaget itu tak bisa berbicara apapun, pak tua langsung berbicara dengan tenang dan menentramkan

"Nak, kamu datang untuk menaklukan laut dan laut yang menaklukanmu
sedangkan saya, orang tua ini datang untuk memeluk laut, maka laut menghantarkanku sampai di pulau ini lebih cepat"

belakangan diketahui bahwa pak tua itu duduk dan makan karena melihat burung camar yang beterbangan menepi. pertanda badai dan baru berlayar setelah badai reda.

nah, bangunan logika semacam ini seperti menggambarkan bangunan logika umum (pelaut muda: dengan tenanga, pikiran, dan energi besar bisa mencapai pulau lebih cepat) atau logika langit (pak tua: alam memiliki hukum sendiri, berdamailah dengan satu hukum untuk melampaui hukum alam yang lain)

begitu pula dengan perasaan. perasaan umum akan mengalahkan nilai, sedangkan perasaan langit akan mendahulukan nilai, walaupun terasa pahit saat memutuskannya. ini akan di bahas kemudian hari (kalau ingat... wkk)

Kita Dan Mimpi

kita lahir di bumi
meminjam tubuh
ruh serta seluruh jiwa
untuk sebuah tujuan
yang tak juga kita yakini

menjaring musim
seperti nelayan
menjaring ikan
dan ikan itu
semakin musnah
ke lubuk entah
seperti mimpi
yang terbakar
api dari mataku

kita lahir di bumi
meminjam segala
bahkan kata-kata
untuk melukiskan
seluruh rasa
luka,cinta, duka
pada lidah kita
yang patah

namun terus mencari
seperti pengembara
pada gurun yang entah ini
kita dan mimpi
memang tak selalu bertemu
tapi selalu
ada

Kelopak Mata Dan LEmbayung Senja

setiap kali kelopak mata terbuka
dunia ikut membuka mata bagi kita
dan kalau kita menyimpan segala
dari sepotong senja
senjapun akan menyimpan segala
dari hidupmu pada lembayungnya
di barisan nisan berkamboja
tepian aspal itu...